detik Health

Siapkah RI Hadapi Situasi Krisis Kesehatan Saat Ada Bencana?

Siapkah RI Hadapi Situasi Krisis Kesehatan Saat Ada Bencana?

Kategori : - Posted by Admin

Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Yogyakarta, Indonesia terletak di wilayah geografis yang sangat rawan terhadap bencana, sehingga diperlukan sistem penanggulangan krisis kesehatan yang kuat. Krisis kesehatan dapat berupa bencana alam atau non alam, wabah penyakit dan konflik sosial yang dapat terjadi di masyarakat dan banyak menyumbang angka kematian di Indonesia.

Dalam mengatasi berbagai bencana, Indonesia tidak cuma menggantungkan diri pada bantuan World Health Organisation (WHO). Ada 9 pusat krisis kesehatan yang sudah dikelola sendiri oleh pemerintah dan siap diandalkan dalam situasi darurat.

"Laporan krisis kesehatan yang diterima oleh pusat krisis tersebut akan diteruskan hingga ke pemerintah pusat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," kata Dr. Sri Henni Setiawati, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK), Kementerian Kesehatan Indonesia dalam jumpa pers di Hotel Ambarukmo Yogyakarta, seperti ditulis Jumat (7/9/2012).

Berdasarkan dat a PPKK, angka kejadian krisis kesehatan menunjukkan jumlah yang fluktuatif yaitu sebanyak 287 kejadian pada tahun 2009, 315 kejadian pada tahun 2010 dan 211 kejadian pada tahun 2011. Tetapi jumlah korban mengalami penurunan yang signifikan seiring dengan peningkatan sistem tanggap bencana oleh pemerintah, terutama setelah terjadinya tsunami di Aceh.

PPKK bahkan telah menjadi Pusat Kerjasama WHO untuk Pelatihan dan Penelitian bagi Penanggulangan Bencana (WHO Collaborating Centre for Training and Research in Disaster Risk Reduction). Pusat kerjasama tersebut akan mulai dioperasikan tahun ini. Fungsinya bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas dan mengembangkan pusat penanggulangan krisis di wilayah Indonesia saja tetapi juga regional Asia Tenggara.

Mengingat begitu banyaknya angka kematian karena bencana alam di dunia antara tahun 2001-2010, negara-negara di kawasan Asia Tenggara menyumbang angka kematian yang cukup besar yaitu sebanyak 46 persen . Oleh karenanya, 11 negara yang termasuk anggota WHO kawasan Asia Tenggara (South East Asia Region Office, SEARO) mengadakan pertemuan untuk membahas pengumpulan dan pengelolaan dana tanggap darurat.

"The WHO South-East Asia Regional Health Emergency Fund (SEARHEF) atau Dana Darurat Kesehatan SEARO telah bekerja sejak tahun 2008 yang fungsinya memberi bantuan dana terhadap situasi krisis kesehatan secara cepat, yaitu hanya dalam waktu 24 jam setelah pengajuan dana oleh negara yang memerlukan," kata Dr Poonam Khetrapal Singh, Deputi Direktur Regional, WHO SEARO.

SEARHEF sejauh ini telah mengeluarkan bantuan dana sebanyak 14 kali, termasuk membantu Indonesia dalam mengatasi krisis kesehatan akibat erupsi Merapi tahun 2010.


(ir/ir)
Waspadai Parasit Pelahap Mata Pada Lensa Kontak yang Kotor

Waspadai Parasit Pelahap Mata Pada Lensa Kontak yang Kotor

Kategori : - Posted by Admin

ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Ini adalah sebuah peringatan bagi para pemakai lensa kontak yang ceroboh. Ilmuwan baru-baru ini menemukan adanya parasit yang muncul pada lensa kontak yang tak dibersihkan dengan benar. Parasit ini awalnya berada dalam air keran atau air mentah, namun bisa menggerogoti mata dan menyebabkan kebutaan.

Acanthamoeba adalah nama parasit ini. Berasal dari keluarga amoeba atau hewan bersel satu, acanthamoeba dapat ditemukan di air sungai, air keran, danau, bahkan di kamar mandi dan kolam renang. Sayangnya hanya sedikit orang yang menyadari keberadaannya.

"Ini adalah masalah yang berpotensi dialami oleh setiap pemakai lensa kontak," kata Fiona Henriquez dari University of the West of Scotland seperti dilansir Daily Mail, Jumat (7/9/2012).

Jutaan orang berisiko terserang amoeba pelahap mata ini, terutama pemakai lensa kontak yang tidak membersihkan lensa kontaknya dengan benar atau menyimpannya dalam keadaan kotor. Acanthamoeba menempel pada lensa kontak, memakan bakteri dan jaringan kornea lalu membuat liang di kornea mata.

Ketika lensa kontak yang kotor dipasang, parasit yang menempel akan mulai menggerogoti dan berkembang biak di lapisan luar bola mata. Gejalanya adalah mata gatal dan berair, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, pembengkakan kelopak mata bagian atas dan rasa nyeri yang parah.

Jumlah orang yang terserang amoeba ini masih relatif kecil. Namun pengobatannya membutuhkan waktu yang panjang, menyakitkan dan tidak sepenuhnya manjur. Pasien yang terinfeksi seringkali harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan tetes mata disenfektan secara teratur. Dalam kasus yang lebih parah bisa sampai memerlukan transplantasi kornea.

Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa pada kasus yang paling serius, parasit membuat liang hingga begitu jauh ke dalam mata sampai tidak dapat disembuhkan dan menyebabkan kebutaan.

"Umumnya amoeba ini a kan meninggalkan jaringan parut pada kornea. Jika infeksi menembus dalam menuju lapisan ketiga mata, maka yang tersisa adalah jaringan parut dengan kornea mata yang telah berlubang," kata Graeme Stevenson, ahli kacamata di inggris.

Stevenson menambahkan, sekitar 75 kasus infeksi acanthamoeba terjadi di Inggris setiap tahun. Penyebabnya kebanyakan karena pemakai lensa kontak tidak mengikuti instruksi yang diberikan oleh optiknya.

Membilas lensa kontak dengan air keran, berenang atau mandi sambil memakai lensa kontak adalah tindakan yang dapat meningkatkan risiko terserang parasit mata ini. Menjaga kebersihan lensa kontak akan dapat melindungi pemakai lensa kontak dari serangan acanthamoeba.


(pah/ir)
Makin Banyak Teman, Kemungkinan Pelajar Jadi Perokok Makin Besar

Makin Banyak Teman, Kemungkinan Pelajar Jadi Perokok Makin Besar

Kategori : - Posted by Admin

ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Untuk mengiklankan produknya, industri rokok berusaha membangun imej bahwa merokok identik dengan kebebasan, kejantanan dan simbol pergaulan. Strategi ini nampaknya berhasil. Nyatanya, sebuah penelitian menemukan bahwa siswa yang populer lebih mungkin menjadi perokok.

Temuan ini dikemukakan oleh para peneliti dari University of Southern California (USC) dan University of Texas. Siswa yang punya banyak teman atau dianggap populer lebih besar kemungkinanya menyulut tembakau daripada teman-teman sebayanya yang kurang populer.

Dalam penelitian yang dimuat Journal of Adolescent Health, para peneliti mengamati siswa dari 7 sekolah menengah di Southern California. Para peneliti menanyai sebanyak 1.950 orang siswa kelas 9 dan 10 mengenai pengalaman pertama kali merokok dan frekuensi merokoknya.

Para siswa juga ditanya apakah mereka sering melihat teman-temannya merokok serta berapa banyak anak-anak sepantarannya y ang dianggap suka merokok. Popularitas seorang siswa diukur dengan cara menghitung jumlah siswa yang menyebutnya sebagai teman.

"Meskipun telah terjadi penurunan cukup banyak dalam hal kebiasaan merokok di masyarakat, ternyata kita masih melihat adanya hubungan antara jumlah teman dengan kecenderungan untuk merokok lebih dari 10 tahun kemudian. Hal ini menunjukkan popularitas merupakan prediktor kuat dari perilaku merokok," kata Thomas W. Valente, Ph.D., profesor kedokteran pencegahan di Sekolah Kedokteran USC seperti dilansir Medical Xpress, Jumat (7/9/2012).

Hasil temuan juga menunjukkan bahwa siswa yang berpikir teman dekatnya merokok lebih mungkin merokok meskipun dugaannya keliru. Siswa yang populer mulai merokok lebih awal dari siswa yang kurang populer. Orang-orang yang mulai merokok ketika duduk di kelas 9 dan 10 punya lebih banyak teman yang merokok.

"Masa remaja adalah masa ketika siswa beralih kepada temannya untuk mencari tahu apa yang penting. Dari 4 sampel yang berbeda, kesimpulan yang kami temukan tetap konsisten," kata Valente.


(pah/ir)
Biar Tak Panik Lihat Laba-laba, Teriak Saja Sambil Ngaku Kalau Takut

Biar Tak Panik Lihat Laba-laba, Teriak Saja Sambil Ngaku Kalau Takut

Kategori : - Posted by Admin

Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Fobia laba-laba bukan hal yang aneh, banyak yang langsung berteriak-teriak ketika melihat binatang ini. Jangan asal berteriak, penelitian terbaru menganjurkan untuk berteriak sambil mengaku kalau takut agar rasa paniknya berkurang.

Orang yang memiliki fobia atau rasa takut yang berlebihan terhadap laba-laba cenderung panik, gemetaran dan bahkan bisa melempar benda apa saja yang ada di dekatnya untuk mengusir binatang tersebut. Tidak lupa, orang tersebut juga akan berteriak histeris.

Menurut penelitian terbaru, sekedar berteriak-teriak tidak akan mengatasi rasa panik dan hanya akan membuat suasana jadi berisik. Disarankan, saat berteriak orang tersebut sebaiknya meneriakkan sebuah pengakuan bahwa dirinya sedang ketakutan.

Ungkapan-ungkapan jujur seperti "Sumpah aku takut!" yang diteriakkan sekencang-kencangnya terbukti lebih ampuh mengatasi rasa takut dibanding kalimat-kalimat sugesti yang katanya menenangkan. Mengg umamkan sugesti seperti "Laba-laba ini tidak akan melukaiku" terbukti kurang efektif.

"Ini unik karena berbeda dari prosedur yang umum, yang tujuannya membuat orang berpikir beda tentang pengalaman, untuk mengubah pengalaman emosional sehingga tidak panik," kata Michelle Craske, psikolog dari University of California seperti dikutip dari Livescience, Jumat (7/9/2012).

Dalam penelitian yang dilakukannya, Dr Craske melibatkan 88 orang relawan yang takut pada laba-laba. Para relawan disuruh duduk di depan sebuah kotan berisi tarantula, sejenis laba-laba berukuran raksasa yang berbisa dan penampilannya sangat menyeramkan.

Saat panik, sebagian diminta menggumankan kalimat sugesti seperti "Aku tidak takut. Laba-laba itu tidak akan melukaiku" dan sebagian lagi disuruh berteriak sambil mengaku kalau takut. Hasil analisis menunjukkan, berteriak sambil mengaku takut lebih ampuh mengatasi rasa panik.



(up/ir)
Bila Pria dan Wanita Terpendek di Dunia Bertemu

Bila Pria dan Wanita Terpendek di Dunia Bertemu

Kategori : - Posted by Admin

(dok: Guinness World Records)
Jakarta, Chandra Bahadur Dangi dan Jyoti Amge telah resmi menyandang gelar pria dan wanita terpendek di dunia oleh Guinness World Records 2012. Tapi baru pertama kalinya kedua manusia mungil ini bisa bertemu dan berdiri saling berdampingan.

Chandra Bahadur Dangi (72 tahun) dinobatkan sebagai pria terpendek di dunia karena memiliki tinggi badan hanya 54,6 centimeter saja. Pria asal Nepal ini merasa sangat senang ketika pertama kali bertemu dengan Jyoti Amge (18 tahun), wanita terpendek di dunia.

"Saya sangat senang diakui oleh Guinness World Records dan nama saya akan ditulis di buku. Ini adalah hal besar bagi keluarga saya, desa saya dan negara saya. Saya sangat senang," ujar Chandra, yang tampak menggunakan pakaian tradisional Nepal, seperti dilansir Mirror.co.uk, Jumat (7/9/2012).

Jyoti tampak sedikit lebih tinggi ketika berdampingan dengan Chandra. Terang saja, karena ia memiliki tinggi badan 62,8 cm.

Karena ukuran tubuhnya, wanita asal India ini harus menggunakan pakaian dan perhiasaan yang dibuat khusus. Ia tidur di tempat tidur kecil dan menggunakann piring dan sendok garpu yang khusus pula.

Yang lebih menarik lagi, kedua manusia terpendek di dunia ini tampak sangat mungil ketika berdiri di samping petugas Guinness World Records yang memiliki tinggi manusia rata-rata.





Namun dengan kondisi tubuhnya, kedua manusia mungil ini selalu tampak bahagia. Mereka berharap dengan gelar yang disandangnya bisa membuatnya lebih sukses.

Hasil Guinness World Records baru edisi 2013 akan diumumkan pada 13 September mendatang.


(mer/ir)
Laki-laki di China Meninggal Gara-gara Donorkan Sperma

Laki-laki di China Meninggal Gara-gara Donorkan Sperma

Kategori : - Posted by Admin

Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Hubei, China, Seorang bapak di China menggugat rumah sakit setelah anak lelakinya meninggal gara-gara mendonorkan sperma di tempat itu. Agar yang lain tidak ketakutan, para ahli mengeluarkan imbauan bahwa mendonorkan sperma di China sangat aman.

Gugatan senilai 4 juta yuan atau sekitar Rp 6 miliar tersebut diajukan oleh Zheng Jinlong, ayah dari seorang mahasiswa tingkat doktoral di Huazhong University. Laki-laki asal Provinsi Hubei ini menuntut ganti rugi atas kematian anaknya, Zheng Gang.

Pada Februari 2011, Gang dilaporkan melakukan donor sperma untuk kelima kalinya di sebuah rumah sakit yang bekerja sama dengan universitas tempat ia kuliah. Sayangnya ia meninggal tak lama sesudah donor dan tidak tidak pernah diketahui pasti apa penyebabnya.

Jinlong, ayahnya berulang kali minta dilakukan otopsi namun pihak rumah sakit menolaknya dan hanya menjelaskan bahwa kematian anak laki-lakinya adalah sebuah kecelakaan. Pada hal menurut Jinlong, anaknya itu sangat sehat sebelum datang ke rumah sakit tersebut.

Meski menolak dilakukannya otopsi, pihak rumah sakit sudah menyanggupi uang santunan sebesar 88 ribu yuan atau sekitar Rp 132,6 juta. Dikutip dari Shanghaidaily, Jumat (7/9/2012), santunan itu diberikan pada istri Gang yang juga sedang menempuh pendidikan doktoral.

Sementara itu, kelangkaan donor di China membuat pasangan tidak subur di negara ini harus antre hingga 2 tahun untuk mendapatkan sperma. Kasus kematian Gang tahun 2011 disebut-sebut turut menakut-nakuti para laki-laki untuk manjadi donor sperma.

"Jadi donor sperma di China itu aman. Donor diberi instruksi kesehatan selama menjalani prosesnya," kata Prof Chen Zhenwen, salah seorang ilmuwan dari institut riset komisi keluarga berencana di China dalam sebuah wawancara dengan Global Times.


(up/ir)
Asia Tenggara Butuh Jutaan Tenaga Kesehatan

Asia Tenggara Butuh Jutaan Tenaga Kesehatan

Kategori : - Posted by Admin

Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Sebagian negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan yang terlatih. Bahkan dibanding di Afrika, jumlah orang di Asia Tenggara yang tidak mendapat layanan tenaga kesehatan masih lebih banyak.

"Kawasan ini memerlukan lebih dari 1 juta tenaga kesehatan terlatih untuk mengatasi kekurangan," ujar Dr Samlee Plianbangchang, Direktur Regional World Health Organisation (WHO) untuk Asia Tenggara dalam rilis yang diterima detikHealth, Jumat (7/9/2012).

Adanya kelangkaan tenaga kesehatan di Asia Tenggara telah menciptakan krisis di wilayah tersebut. Beberapa negara dengan perbandingan antara tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk yang tidak ideal tidak mampu memberikan pelayanan dasar bagi 80 persen penduduknya.

Samlee mengungkap, di Asia Tenggara masih ada sedikitnya 6 negara yang perbandingan jumlah tenaga kesehatan terlatihnya kurang dari 23 tiap 10.000 penduduk. Keenam negara ya ng dimaksud adalah Bangladesh, Bhutan, India, Nepal, Myanmar dan Indonesia.

Kurangnya sumber daya dan kurang jelasnya arah kebijakan di tiap-tiap negara dianggap sebagai hambatan dalam upaya mengatasi kelangkaan tersebut. Solusi yang ditawarkan antara lain adalah merekrut tenaga kesehatan berbasis masyarakat, agar lebih mudah menjangkau daerah tertinggal.

Para tenaga kesehatan berbasis masyarakat ini memerlukan pelatihan untuk mendapatkan cukup pengetahuan dan keterampilan untuk melayani masyarakat di lingkungan mereka. Beberapa negara seperti Bhutan mendukung tenaga kesehatan masyarakat ini melalui program S1 kesehatan masyarakat.

Inisiatif ini didukung WHO dan Thailand memberikan dukungan pengembangan kurikulum. WHO menganjurkan, negara anggota WHO perlu melihat kembali kebijakan dan strategi kesehatan masing-masing serta menilai kembali pelatihan dan pendidikan yang telah ada.


(up/ir)

Android

BlackBerry

sony

sony